Selasa, 06 Januari 2026
Sumateraku Bersedih
Bencana alam di Sumatera bukan sekadar peristiwa cuaca ekstrem, melainkan potret krisis tanggung jawab yang berlapis. Banjir, longsor, dan kerusakan lingkungan terus berulang, meninggalkan luka mendalam bagi rakyat kecil yang tak pernah ikut mengambil keputusan. Puisi islami “Sumateraku Bersedih” hadir sebagai suara nurani, memadukan perspektif Islam, kritik sosial, dan kegelisahan politik atas pengelolaan alam yang abai terhadap amanah.
Lewat bahasa puitis namun tajam, puisi ini mengajak pembaca merenung, sejauh mana kekuasaan, keserakahan, dan pembiaran telah mempercepat murka alam? Sebuah refleksi iman di tengah krisis ekologis Sumatera.
baca juga : Rinduku bersama Rasulullah
Sumateraku Bersedih
Sumateraku bersedih,
air naik bukan karena hujan semata,
tetapi karena keputusan di meja rapat,
yang tak pernah merasakan lumpur,
dan tanda tangan yang lebih tajam dari kapak.
Hutan tumbang tanpa sidang nurani,
izin turun lebih deras dari air hujan,
ayat-ayat amanah dibungkam angka investasi,
sementara rakyat belajar berenang,
di atas tanah yang dulu miliknya.
Masjid masih berdiri di tengah banjir,
azan menggema di antara sirene dan tangis,
namun mengapa ayat tentang keadilan,
tak pernah dibaca
saat alam digadaikan diam-diam?
Sumateraku bersedih,
karena dosa tak lagi terasa dosa,
dibungkus istilah proyek strategis,
dibersihkan dengan konferensi pers,
lalu diwariskan sebagai bencana tahunan.
Anak-anak kehilangan sekolah,
petani kehilangan sawah,
nelayan kehilangan sungai yang bersih,
sementara grafik keuntungan terus naik,
tanpa pernah turun menengok korban.
Ya Allah, Engkau Maha Adil,
kami tak menuduh langit murka tanpa sebab,
kami tahu bumi hanya menagih amanah,
yang lama diabaikan penguasa,
dan disetujui oleh diam yang berjamaah.
Bencana ini bukan azab semata,
tetapi audit terbuka dari-Mu,
siapa menjaga, siapa menjual,
siapa berzikir, siapa berkilah,
semua tercatat tanpa bisa disunting.
Sumateraku bersedih,
karena kritik dianggap ancaman,
data dianggap musuh,
dan rakyat diminta sabar,
sambil terus menjadi korban.
Ampuni kami yang hanya pandai berduka,
namun takut bersuara,
yang rajin berdoa tapi malas mengawal,
yang menyerahkan bumi pada rakus,
lalu bertanya mengapa banjir datang lagi.
Sumateraku bersedih, tapi belum mati,
selama masih ada iman yang melawan lupa,
selama masih ada kata yang menolak tunduk,
kami percaya rahmat-Mu akan turun,
bersama keadilan yang diperjuangkan, bukan ditunggu.
Karawang , 05 Jan 2026
Hak Cipta:© Copyright 2014 - Puisi Terbaik Islami
Puisi Islami Terbaik pembangun jiwa , penggugah hati . Puisi Pilihan yang bisa menjadikan Anda untuk terpacu mengamalkan kebaikan Read More →
Faidah atau Puisi Terkait:
Dunia Ibroh Muhasabah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)














0 comments:
Posting Komentar